MIP
DEVP
Kembali ke Artikel
Web Development

Terjebak 'Bias' React? Mengapa AI Mengubah Cara Kita Coding di 2025

M
MIPDEVP Team
12 Juni 2026
3 menit
#
Quick ActionsMobile
Terjebak 'Bias' React? Mengapa AI Mengubah Cara Kita Coding di 2025
3 menit
Web Development

Pernah merasa AI coding assistant yang kamu gunakan selalu menyarankan React untuk setiap masalah yang kamu hadapi? Ternyata, kamu tidak sendirian—ini adalah bias yang sedang mengubah lanskap pengembangan web dunia.

Dunia pengembangan web di tahun 2025 sedang berada di persimpangan jalan yang cukup menarik. Berdasarkan laporan mendalam dari The New Stack, ada dikotomi nyata antara kemajuan fitur-fitur native web yang semakin perkasa dan kecenderungan Large Language Models (LLM) yang justru semakin fanatik dengan React.

Kekuatan Baru di Balik Native Web

Selama satu tahun terakhir, kita melihat fitur-fitur native seperti View Transition API yang kini masuk dalam standar Baseline 2025, secara diam-diam mengejar ketertinggalan mereka dari framework. Pengembang kini bisa melakukan animasi halaman yang halus tanpa perlu lagi mengandalkan tumpukan library pihak ketiga yang berat. Banyak praktisi, seperti Jeremy Keith, bahkan mulai menyuarakan kegelisahannya karena penggunaan framework yang berlebihan sering kali membatasi potensi asli browser dan membebani pengguna dengan file size yang tidak perlu.

AI: Sang 'Fanboy' React

Masalah utama muncul ketika kita menengok bagaimana AI membantu kita menulis kode. Karena React dan framework seperti Next.js mendominasi pasar saat ini, LLM seperti GPT-5 memiliki basis data latihan yang sangat besar mengenai ekosistem ini. Hasilnya? AI cenderung secara otomatis memberikan solusi berbasis React untuk hampir setiap masalah, meskipun terkadang ada pendekatan vanilla JavaScript yang jauh lebih efisien.

"Established repos have better support from the community. This aids developers in self-serve maintenance," ujar Ishaan Singal, peneliti dari OpenAI, menanggapi mengapa AI cenderung merekomendasikan framework yang populer.

Masa Depan Web di Era Agen AI

Kita juga melihat lahirnya tren "aplikasi di dalam aplikasi". Dengan adanya Model Context Protocol (MCP), kini antarmuka berbasis web bisa disisipkan langsung ke dalam percakapan AI seperti ChatGPT. Vercel, yang menjadi motor penggerak Next.js, tentu saja melihat ini sebagai peluang emas untuk membawa ekosistem mereka lebih dalam lagi ke dalam alur kerja AI yang dinamis. Di sisi lain, Google terus mendorong "Web AI" agar model-model ML bisa berjalan secara client-side langsung di perangkat pengguna, meminimalisir ketergantungan pada cloud.

Kesimpulan untuk Pengembang

Sebagai penutup, tantangan terbesar pengembang di tahun 2026 nanti bukan hanya soal memilih framework, tapi soal mempertahankan objektivitas di tengah banjir kode yang disarankan oleh AI. Baca selengkapnya di sini untuk melihat pandangan lengkap mengenai bagaimana Vite+ akan mencoba menyatukan fragmentasi tooling yang saat ini sedang kita hadapi.

Pada akhirnya, AI hanyalah alat bantu. Pilihan tumpukan teknologi tetap ada di tangan kita sebagai manusia yang memahami kebutuhan produk yang sebenarnya.",cta:


Sumber berita https://thenewstack.io/web-development-in-2025-ais-react-bias-vs-native-web/

Tags

Diskusi (0)

Tulis Komentar

Komentar akan dimoderasi sebelum ditampilkan untuk menjaga kenyamanan bersama.

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memulai diskusi!

Siap Kolaborasi

Butuh bantuan menerapkan insight ini ke bisnis Anda?

Tim MIPDEVP siap membantu membangun produk digital, automasi, atau strategi pemasaran berbasis teknologi yang relevan dengan kebutuhan Anda.

Konsultasi Gratis

Respon cepat dalam 1x24 jam • Tidak ada biaya tersembunyi