MIPDEVP Technology Studio

Stop! Tren 'Glassmorphism' ala Apple Mungkin Bukan Masa Depan yang Kita Butuhkan

2026-03-18 · UI/UX Design

Pernah merasa antarmuka aplikasi terbaru terlihat sangat cantik, tapi tiba-tiba jadi sulit digunakan? Selamat, Anda sedang terjerat tren 'Glassmorphism' yang kini jadi obsesi baru Apple dan dunia desain!

Demam Kaca di Layar Digital

Belakangan ini, jagat media sosial seolah tersihir dengan tampilan antarmuka yang berkilau, transparan, dan terkesan mewah—sebuah gaya yang kini populer disebut sebagai Glassmorphism. Tren ini meledak tak lama setelah Apple memperkenalkan bahasa desain barunya, Liquid Glass, pada sistem operasi iOS 26 dan MacOS Tahoe 26. Hampir semua orang, mulai dari desainer independen hingga pengembang aplikasi, berbondong-bondong membuat tiruan tombol tembus pandang dengan efek blur yang estetik. Namun, menurut analisis mendalam dari Creative Bloq, kita mungkin perlu menekan tombol 'rem' sebelum obsesi ini benar-benar merusak standar kegunaan antarmuka digital kita.

Mengapa Kita Kembali ke Masa Lalu?

Jika kita menoleh ke belakang sekitar 15 tahun lalu, tren serupa sempat mendominasi. Dulu, kita mengenalnya dengan istilah skeuomorphism, di mana elemen digital mencoba meniru wujud fisik objek nyata agar pengguna awam tidak bingung saat pertama kali mengenal dunia digital. Pertanyaannya sekarang, apakah kita masih membutuhkan "bimbingan" visual seperti itu? Dunia teknologi saat ini sudah sangat matang; pengguna sudah sangat familiar dengan cara kerja aplikasi. Menggunakan desain kaca yang terkesan rumit dan fussy dianggap sebagai langkah mundur yang tidak memberikan manfaat fungsional nyata.

Masalah Utama pada Kegunaan (UX)

"Glass makes sense for VisionOS, where you might have relevant information behind a glass element, but less sense for phones or laptops, where it hinders legibility for no obvious benefit."

Kutipan dari artikel tersebut menyoroti masalah utama: keterbacaan. Meskipun Liquid Glass terlihat memukau dalam demo animasi 3D, menerapkannya pada antarmuka aplikasi harian di smartphone atau laptop justru menciptakan kendala visual. Bayangkan harus membaca teks di atas latar belakang yang terus berubah-ubah dan memiliki efek blur yang tidak konsisten. Tampilan yang estetik sering kali mengorbankan fungsi dasar sebuah antarmuka: kemudahan interaksi.

Langkah Strategis atau Sekadar Estetika?

Ada spekulasi menarik mengenai alasan Apple mendorong desain ini. Creative Bloq berteori bahwa mungkin ini bukan tentang kecantikan semata, melainkan persiapan untuk masa depan. Liquid Glass kemungkinan besar adalah "batu loncatan" bagi pengalaman XR (Extended Reality) atau perangkat smart glass yang belum dirilis secara massal. Dalam skenario tersebut, elemen antarmuka memang perlu diposisikan di atas lingkungan nyata, sehingga efek transparan menjadi masuk akal. Namun, untuk layar datar perangkat saat ini, implementasi ini dirasa berlebihan.

Kesimpulan: Utamakan Fungsi, Bukan Sekadar Kilauan

Sebagai penutup, kita perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam perangkap tren yang hanya mengedepankan gaya. Memang, secara visual efek ini bisa diimplementasikan dengan kode seperti css blend modes atau teknik border gradients, namun jika akhirnya hanya membuat pengguna kesulitan mengenali mana tombol yang bisa ditekan dan mana yang hanya dekorasi, maka desain tersebut gagal. Mari fokus pada inovasi yang benar-benar mempermudah pengalaman pengguna, bukan sekadar mengikuti apa yang terlihat keren di layar saja. Jika Anda tertarik menyelami perdebatan teknis ini, baca selengkapnya di sini.",cta:


Sumber berita https://www.creativebloq.com/web-design/ux-ui/its-time-to-stop-the-apple-inspired-obsession-with-glass-ui-before-it-starts