Kamu merasa aplikasimu sudah canggih tapi pertumbuhan tetap stagnan? Mungkin kamu melewatkan rahasia sederhana yang baru saja terungkap di ajang Business of Apps London 2026.
Acara Business of Apps London 2026 baru saja usai, dan bagi kamu yang berkecimpung di dunia mobile apps, ada banyak 'daging' informasi yang bisa dipetik. Menurut laporan dari Business of Apps, acara ini dihadiri oleh lebih dari 900 pemimpin industri yang fokus membahas cara memenangkan 'pertarungan atensi' pengguna di tahun 2026. Salah satu insight paling tajam datang dari Benjamin Lebus, CEO Mob, yang menekankan pentingnya fokus. Jangan terjebak 'sindrom objek berkilau' atau terlalu banyak fitur tambahan yang justru mengaburkan masalah utama yang ingin diselesaikan aplikasi kamu. Singkatnya, jadilah 'obat pereda nyeri' bagi pengguna, bukan sekadar 'vitamin' yang bisa diabaikan.
Strategi Onboarding yang Adaptif
Satu hal yang sering diremehkan padahal punya pengaruh besar adalah onboarding. Banyak pengembang masih melihat ini sebagai rangkaian layar yang harus dilewati pengguna di awal instalasi. Padahal, menurut Emily Turner dari Vira Health, onboarding adalah kesempatan terbesar untuk memacu pertumbuhan. Pendekatan yang lebih modern adalah membuatnya bersifat progresif, di mana tahapan tertentu baru terbuka setelah pengguna mencapai milestone tertentu atau berinteraksi dengan fitur spesifik, bukan sekadar basa-basi di hari pertama.
Gelombang Subscription Apps
Industri aplikasi berlangganan memang sedang meledak. Berdasarkan data yang dibahas dalam sesi bersama Rik Haandrikman dari RevenueCat, ribuan aplikasi kini mencatatkan pertumbuhan signifikan, namun tantangan utamanya tetap sama: churn atau hilangnya pengguna. Menariknya, banyak masalah churn bukan karena pengguna tidak suka, melainkan kegagalan pembayaran. Jadi, pastikan infrastruktur pembayaranmu kokoh dan komunikasikan secara proaktif kepada pengguna agar data pembayaran mereka selalu up-to-date.
AI: Gunakan Jika Memang Perlu
Topik AI tentu tidak bisa dilewatkan. Namun, pesan utamanya bukan 'pakai AI untuk semuanya', melainkan 'jangan terburu-buru'. Yasin Kheradmand dari Stakemate menyarankan untuk menganggap agen AI layaknya 'junior marketer' yang perlu dilatih dengan data yang tepat. Jangan membangun AI dari nol jika skalanya belum memungkinkan. Ingat prinsip garbage in, garbage out; jika data yang kamu masukkan tidak berkualitas, AI pun tidak akan memberikan hasil yang diinginkan.
"The best apps use onboarding to answer unspoken questions about value, trust, and what to do next."
Winning di tahun 2026 bukan soal siapa yang paling banyak menggunakan buzzword teknologi, melainkan siapa yang paling memahami perilaku dan kebutuhan mendasar penggunanya. Kreativitas dalam menjalin hubungan melalui pesan personal dan strategi konten yang humanis jauh lebih bernilai daripada sekadar membanjiri pengguna dengan notifikasi yang akhirnya hanya jadi sampah di bar notifikasi mereka. Baca selengkapnya di sini.




Diskusi (0)
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memulai diskusi!