MIP
DEVP
Kembali ke Artikel
UI/UX Design

Neumorphism: Tren Desain UI yang Cantik atau Cuma 'Zombie' yang Susah Mati?

M
MIPDEVP Team
24 Mei 2026
3 menit
#
Quick ActionsMobile
Neumorphism: Tren Desain UI yang Cantik atau Cuma 'Zombie' yang Susah Mati?
3 menit
UI/UX Design

Desain antarmuka Anda tampak membosankan? Neumorphism menjanjikan tampilan 3D yang estetik, tapi apakah gaya ini benar-benar bisa dipakai, atau justru sebuah bencana bagi pengguna? Mari kita bedah faktanya.

Pernahkah Anda melihat desain antarmuka aplikasi yang tampilannya tampak sangat 'timbul' dan solid, seolah-olah tombolnya bisa ditekan secara fisik? Itulah yang kita kenal sebagai Neumorphism. Tren ini meledak sekitar tahun 2020, memikat mata para desainer karena kemampuannya memberikan dimensi baru pada antarmuka yang selama bertahun-tahun didominasi oleh desain datar atau flat design. Namun, ada pertanyaan besar yang membayangi: apakah ini masa depan desain UI, atau hanya sekadar tren sesaat yang tidak praktis?

Apa Itu Neumorphism?

Menurut laporan dari Creative Bloq, Neumorphism bukanlah kebangkitan kembali skeuomorphism (gaya desain yang meniru objek fisik secara realistis). Sebaliknya, ini adalah persilangan antara desain datar yang bersih dengan efek bayangan serta sorotan cahaya (highlight) yang sangat halus. Nama ini pertama kali dicetuskan oleh Jason Kelley dalam menanggapi artikel milik Michal Malewicz, dan sejak saat itu, istilah tersebut menjadi standar untuk menyebut gaya visual 'lembut' yang tampak menyatu dengan latar belakang.

Mengapa Desainer Masih Ragu?

Di balik tampilannya yang estetik, terdapat masalah serius dalam aspek usability atau kegunaan. Michal Malewicz sendiri, sebagai salah satu tokoh yang mempopulerkan istilah ini, menyebutnya sebagai 'tren zombie'. Mengapa? Karena meskipun Neumorphism terus dibicarakan dan memenuhi galeri mock-up di Dribbble, sangat sedikit produk nyata yang berani menerapkannya. Salah satu alasan utamanya adalah:

  • Masalah Aksesibilitas: Tombol dengan gaya ini seringkali kurang kontras, sehingga sulit dibedakan oleh pengguna dengan gangguan penglihatan.
  • Keterbatasan Warna: Gaya ini hanya terlihat bagus pada skema warna yang kalem/muted. Jika Anda mencoba menggunakan warna-warna berani atau saturasi tinggi, efek 'timbul' yang menjadi daya tarik utamanya akan hilang.

Apakah Masih Layak Dicoba?

Jika Anda penasaran untuk bereksperimen, ada banyak alat bantu seperti generator CSS yang bisa Anda temukan secara online, salah satunya di neumorphism.io. Namun, Chris Coyier, pengembang web terkemuka, juga menyuarakan skeptisisme yang sama. Tantangan terbesar bagi desainer saat ini adalah menyeimbangkan keindahan visual dengan fungsionalitas yang inklusif bagi semua pengguna.

Pada akhirnya, Neumorphism saat ini lebih cocok disebut sebagai "mainan desain" daripada sistem desain yang siap pakai untuk proyek besar. Ia menawarkan estetika yang segar di tengah kebosanan flat design, namun tanpa perbaikan pada aspek kontras dan keterbacaan, desain ini kemungkinan besar akan tetap menjadi eksperimen visual semata. Apakah kita akan melihat evolusi yang lebih baik di masa depan? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.","cta:


Sumber berita https://www.creativebloq.com/news/neumorphism

Tags

Diskusi (0)

Tulis Komentar

Komentar akan dimoderasi sebelum ditampilkan untuk menjaga kenyamanan bersama.

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memulai diskusi!

Siap Kolaborasi

Butuh bantuan menerapkan insight ini ke bisnis Anda?

Tim MIPDEVP siap membantu membangun produk digital, automasi, atau strategi pemasaran berbasis teknologi yang relevan dengan kebutuhan Anda.

Konsultasi Gratis

Respon cepat dalam 1x24 jam • Tidak ada biaya tersembunyi