MIPDEVP Technology Studio

Memetakan proses bisnis sebelum membangun sistem informasi

Jution Candra Kirana · 2026-11-02

Bayangkan sekolah atau kampus Anda baru membeli aplikasi penerimaan siswa baru. Setelah peluncuran, bagian tata usaha mengeluh karena verifikasi berkas tidak bisa dilakukan bertahap. Bagian keuangan masih mencatat pembayaran di lembar kerja terpisah. Wali kelas juga baru menerima data saat tahun ajaran sudah berjalan. Aplikasinya berjalan, tetapi tidak sesuai dengan cara kerja yang sebenarnya.

Masalah ini sering muncul karena proses bisnis tidak dipetakan sebelum sistem dibangun. Artikel ini membahas cara merencanakan anggaran dan waktu untuk tahap pemetaan. Dengan perencanaan yang jelas, tahap ini tidak dianggap formalitas dan tidak dipangkas saat dana terbatas.

Mengapa Pemetaan Perlu Dianggarkan Tersendiri

Dalam teknik sipil, pekerjaan dibagi menjadi desain, konstruksi, dan pemeliharaan. Tidak ada yang membangun jembatan tanpa gambar rancangan. Sistem informasi juga perlu diperlakukan seperti itu. Peta proses berfungsi sebagai "gambar kerja" bagi pengembang. Peta ini menunjukkan siapa melakukan apa, dokumen apa yang berpindah tangan, keputusan apa yang diambil, dan di titik mana pekerjaan sering tertahan.

Hal yang sama berlaku jika institusi berencana menambahkan fitur berbasis kecerdasan buatan, misalnya untuk membantu menjawab pertanyaan calon mahasiswa atau mengelompokkan data akademik. Kecerdasan buatan dirancang agar komputer dapat meniru cara manusia berpikir dan bertindak. Fitur seperti itu sulit dirancang dengan baik jika cara kerja manusianya sendiri belum dipahami dan dituliskan.

Karena itu, alokasikan anggaran dan waktu pemetaan sebagai pos tersendiri. Jangan memasukkannya diam-diam ke dalam biaya pengembangan aplikasi.

Komponen Biaya dan Waktu dalam Tahap Pemetaan

Berikut komponen yang umumnya muncul. Besarnya biaya dan waktu untuk setiap komponen sangat bergantung pada kondisi institusi Anda.

Komponen Isi pekerjaan Penentu biaya dan waktu
Penentuan ruang lingkup Memilih proses yang akan dipetakan, misalnya PPDB/PMB, presensi, nilai, atau pembayaran SPP/UKT Jumlah proses dan unit yang terlibat
Wawancara dan lokakarya Diskusi dengan TU, bagian akademik, keuangan, guru/dosen, dan perwakilan siswa/mahasiswa Jumlah narasumber, jadwal mengajar, dan jumlah lokasi kampus
Pengumpulan dokumen Formulir, SOP lama, contoh laporan, dan berkas lembar kerja Kerapian arsip yang sudah ada
Penggambaran peta proses Membuat diagram alur kondisi saat ini (as-is) dan kondisi yang diinginkan (to-be) Kompleksitas alur dan banyaknya pengecualian
Validasi Memeriksa ulang peta bersama pemilik proses Jumlah putaran revisi
Dokumentasi kebutuhan Menerjemahkan peta menjadi daftar kebutuhan sistem Tingkat detail yang diminta pengembang atau vendor

Dari sisi biaya, pos yang biasanya muncul adalah honor fasilitator atau analis (internal maupun konsultan), konsumsi dan ruang lokakarya, lisensi perangkat lunak pembuat diagram jika diperlukan, serta waktu kerja staf. Waktu kerja staf sering tidak dihitung, padahal guru atau dosen yang ikut lokakarya meninggalkan pekerjaan lain selama sesi berlangsung.

Faktor yang Membuat Biaya Naik atau Turun

Faktor yang cenderung menaikkan biaya dan memperpanjang waktu:

  • Banyak unit dan lokasi. Kampus dengan beberapa fakultas atau yayasan dengan beberapa jenjang sekolah biasanya punya variasi prosedur. Setiap variasi perlu dipetakan.
  • Prosedur tidak tertulis. Jika aturan hanya ada di ingatan staf senior, wawancara akan lebih panjang dan validasinya lebih sulit.
  • Jadwal akademik yang padat. Lokakarya yang bertepatan dengan masa ujian atau penerimaan siswa baru sering ditunda.
  • Pergantian pimpinan atau kebijakan. Peta yang sudah disetujui bisa berubah jika ada keputusan baru di tengah jalan.
  • Ruang lingkup melebar. Permintaan seperti "sekalian petakan proses kepegawaian" terdengar wajar, tetapi menambah beban secara nyata.

Faktor yang cenderung menurunkan biaya:

  • SOP yang sudah ada dan relatif mutakhir.
  • Adanya satu penanggung jawab internal yang berwenang mengambil keputusan.
  • Pemetaan bertahap, yaitu memulai dari satu proses paling bermasalah lalu melanjutkan ke proses lain.
  • Staf internal yang dilatih memetakan proses, sehingga ketergantungan pada konsultan berkurang.

Cara Menyusun Anggaran yang Realistis

1. Hitung dari unit kerja, bukan dari angka bulat. Daftarkan proses yang akan dipetakan. Untuk setiap proses, perkirakan jumlah sesi wawancara, jumlah lokakarya, dan jumlah putaran validasi. Kalikan dengan durasi dan biaya per sesi sesuai tarif yang berlaku di institusi Anda. Cara ini membuat anggaran mudah dijelaskan kepada yayasan, komite, atau pimpinan universitas.

2. Sesuaikan dengan kalender akademik. Tandai periode yang tidak memungkinkan, seperti ujian, libur semester, dan masa pendaftaran. Jadwalkan pemetaan di sela periode tersebut. Proses penerimaan siswa baru justru paling baik dipetakan setelah satu siklus selesai, saat masalahnya masih segar di ingatan staf.

3. Buat rentang, bukan satu angka. Susun tiga skenario: minimal (satu proses inti, satu putaran validasi), wajar (beberapa proses terkait, dua putaran validasi), dan luas (seluruh proses akademik dan administrasi). Pimpinan dapat memilih skenario sesuai kemampuan dana.

4. Sisihkan dana cadangan. Revisi hampir selalu terjadi. Tentukan persentase cadangan yang disepakati internal dan tuliskan secara eksplisit di dokumen anggaran.

5. Tetapkan hasil akhir yang jelas. Anggaran lebih mudah dipertanggungjawabkan jika hasilnya terukur. Contohnya: diagram as-is dan to-be untuk setiap proses, daftar masalah beserta prioritasnya, dan dokumen kebutuhan sistem yang ditandatangani pemilik proses.

6. Bandingkan dengan biaya jika tidak memetakan. Pertimbangkan risiko yang muncul jika tahap ini dilewati: modifikasi aplikasi setelah peluncuran, pekerjaan ganda karena data dicatat di dua tempat, dan pelatihan ulang staf. Biaya-biaya ini memang sulit diangkakan, tetapi tetap perlu dicantumkan sebagai pertimbangan saat mengajukan anggaran.

Kesimpulan dan Langkah Berikutnya

Pemetaan proses bisnis adalah tahap desain dalam pembangunan sistem informasi sekolah atau kampus. Anggarkan tahap ini secara terpisah, hitung berdasarkan jumlah proses dan sesi, sesuaikan dengan kalender akademik, dan siapkan rentang skenario beserta dana cadangan.

Langkah praktis yang bisa dimulai minggu ini:

  1. Pilih satu proses yang paling sering dikeluhkan, misalnya pendaftaran, pembayaran, atau rekap nilai.
  2. Tunjuk satu penanggung jawab internal untuk proses tersebut.
  3. Kumpulkan semua formulir dan SOP yang terkait dengan proses itu.
  4. Jadwalkan satu lokakarya singkat dengan para pelaksana langsung.

Dari hasil langkah kecil ini, Anda akan memiliki gambaran yang lebih nyata untuk menyusun anggaran pemetaan berikutnya.

Sumber


Foto oleh KaterynaTsar di Wikimedia Commons (Lisensi: CC BY-SA 4.0).