Jurusan Baru Masa Depan: Saat Teknik Bertemu Psikologi untuk Menciptakan Teknologi yang 'Manusiawi' Banget!
2026-03-11 · UI/UX Design
Pernah terpikir kenapa beberapa aplikasi terasa sangat mudah digunakan, sementara yang lain bikin kita ingin melempar HP? Ternyata, kuncinya bukan cuma soal kode, tapi kombinasi unik antara teknik dan psikologi yang sekarang resmi diajarkan di kampus!
Pernahkah kamu merasa frustrasi saat menggunakan aplikasi yang tombolnya membingungkan atau alurnya tidak logis? Nah, ini adalah masalah yang sedang dicoba diselesaikan oleh Hofstra University melalui program gelar terbaru mereka, Human Factors and Usability Studies. Menurut laporan dari situs resmi berita universitas tersebut, program sarjana (BS dan BA) ini dirancang untuk menjawab kebutuhan industri akan produk, sistem, dan layanan yang benar-benar intuitif.
Mengapa Jurusan Ini Sangat Relevan?
Program ini bukan sekadar belajar cara coding. Ini adalah perpaduan unik antara teknik, ilmu komputer, psikologi, penulisan, sosiologi, dan seni rupa. Seperti yang disampaikan oleh Dekan Sina Rabbany dari Fred DeMatteis School of Engineering and Applied Science, program ini adalah "perpaduan sejati antara teknologi dan pengalaman manusia." Tujuannya jelas: melatih mahasiswa agar tidak hanya bisa membuat perangkat lunak, tetapi juga memahami perilaku manusia di balik layar.
Dalam acara peluncuran baru-baru ini, panelis alumni yang berkecimpung di dunia profesional berbagi pandangan menarik mengenai user experience (UX). Salah satu poin utama yang disoroti adalah bahwa di pasar kerja yang sangat kompetitif saat ini, kemampuan berpikir kritis jauh lebih berharga daripada sekadar bisa mengerjakan tes teknis. Sebagai contoh, Kaitlin Parente, seorang software engineer di Realtor.com, menekankan pentingnya proses berpikir dan iterasi desain dibandingkan hanya terpaku pada sintaksis.
Kekuatan di Balik Data dan Empati
Salah satu hal yang paling krusial dalam dunia UI/UX adalah pengujian kegunaan atau usability testing. James Villacci, seorang direktur riset UX global, memberikan contoh nyata bagaimana perubahan kecil dapat berdampak besar pada bisnis. Dia menceritakan:
"Di HelloFresh, kami melakukan usability test yang membuahkan peningkatan konversi sebesar 12% hanya dengan mengubah warna tombol dan menambahkan drop shadow."
Ini membuktikan bahwa desain yang berpusat pada manusia bukan cuma masalah estetika, tetapi strategi bisnis yang sangat efektif. Selain itu, para ahli di panel tersebut juga sepakat bahwa meskipun AI seperti ChatGPT sangat membantu dalam tugas-tugas teknis, elemen manusia tetap tidak tergantikan karena AI tidak bisa memahami niat emosional atau nuansa kebutuhan pengguna secara mendalam.
Tips untuk Calon Mahasiswa
Bagi mereka yang tertarik terjun ke bidang ini, para alumni memberikan beberapa nasihat kunci:
- Jangan ragu untuk mencari mentorship dan membangun jaringan sejak di bangku kuliah.
- Manfaatkan setiap peluang magang untuk mengenali realita industri.
- Fokuslah pada pengambilan keputusan berbasis data, bukan sekadar mengikuti tren desain.
Program ini merupakan langkah besar bagi Hofstra University dalam mendukung rencana strategis mereka untuk memperluas cakupan akademik yang interdisipliner. Bagi calon mahasiswa, ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan keunggulan kompetitif di industri teknologi yang terus menuntut solusi lebih inklusif dan ramah pengguna.